Kemenangan Islam janji Allah SWT.


Janji Allah Ta’ala Tentang Pertolongan Dan Kemenangan





Oleh: Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman.

Tsauban, seorang pelayan Rasulullah, berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda,
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الْأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ الله أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ قَالَ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ قَالَ قُلْنَا وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.
Artinya, ”Rasulullah bersabda, “Akan datang masanya semua bangsa dari berbagai penjuru mengepung kalian, sebagaimana orang-orang mengerumuni hidangan di meja makan.” Tsauban berkata, “Kami pun bertanya, “Apakah karena waktu itu jumlah kami sedikit ya, Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ketika itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian adalah buih, seperti buih di lautan. Rasa segan telah dicabut dari hati musuh-musuh kalian, dan dicampakkan penyakit wahn dalam hati-hati kalian.” Tsauban berkata, “Kamipun bertanya, “Apakah penyakit wahn tersebut?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”(HR. Ahmad)
Sejak runtuhnya khilafah Utsmaniyyah, seolah-olah kekuatan Islam perlahan surut digilas perputaran roda zaman dimana tahta tersebut akhirnya berhasil dikuasai kaum kafir dan para antek-anteknya.
   Peristiwa ini seakan menyurutkan langkah-langkah sebagian besar umat Islam dan akhirnya memilih menegakkan izzah kehidupannya masing-masing. Namun ternyata tidak, terdapat sebagian kecil yang tetap berjuang dan optimis kekhilafahan akan kembali terwujud. Mereka yang termasuk thaifah manshuroh (kelompok yang mendapat kemenangan), senantiasa istiqomah dan bertekad membangkitkan Islam dengan kekuatannya.
   Mereka selalu meyakini bahwa Allah Ta’ala Sang pemilik dien yang haq ini, akan mengerahkan pertolongan-Nya dalam menjaga kemuliaan Islam. Mereka pun menyadari bahwa sekedar berpangku-tangan dan menjadi bagian kelompok qo’idun, maka cita-cita besar dan mulia tersebut akan mungkin mampu diraih. Oleh karena itu, mereka tak hanya berbekal keyakinan semata, namun juga disertai ikhtiar dan ghiroh yang tak pernah padam, terutama dalam jihad fi sabilillah. Mereka amat mencintai Islam, sehingga dalam Islam mereka hidup, berjuang, dan berharap mati dalam kesyahidan. Isy kariman au mut syahidan. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Orang-orang mukmin yang sebe­narnya yaitu orang-orang yang ber­iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian tidak lagi ada keraguan dalam hatinya tentang keimanannya. Kemudian mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka untuk membela Islam. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.“ (QS. al-Hujurat, 49:15)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, bahwa Rasulullah telah bersabda,
مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.
Artinya, “Barangsiapa berperang demi menjunjung kalimat Allah setinggi mungkin, maka ia berada pada jalan Allah.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
Islam yang tegak akan syari’atnya, diciptakan Allah Ta’ala untuk semua makhluk-Nya. Ia merupakan fasilitas dalam meraih kemuliaan serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hamba-hamba-Nya yang memiliki kesungguhan beriman kepada-Nya memilih menunda untuk bersenang-senang dan menikmati hingar-bingar dunia. Mereka hidup sewajarnya dengan meneladani Rasulullah dan para sholafush sholih. Sebab Islam diturunkan tidak untuk tujuan keduniaan, melainkan untuk menegakkan kalimatullah dan mencapai keridhoan-Nya. Dengan jihad, Allah Ta’ala hanya ingin memenangkan uluhiyah dan hukmiyah-Nya semata.
Dari ‘Aidz bin ‘Amr dan Al-Muzani ra, bahwa telah bersabda Rasulullah,
الْإِسْلاَمُ يَعْلُوا وَ لاَ يُعْلَى.
Artinya, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengungguli ketinggiannya.” (HR. Ad-Daruquthni)
Mengabaikan syari’at Islam dan menekuni kezhaliman merupakan benih-benih pengundang bencana dan laknat Allah Ta’ala. Untuk itu perlu bersegera membasmi segala pengundang datangnya bencana Allahazza wa jalla. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Wahai Manusia, bencana apa saja yang menimpa diri kalian, maka bencana itu adalah hasil kerja tangan-tangan kalian. Namun demikian amat banyak kesalahan-kesalahan kalian yang dimaafkan oleh Allah.“ (QS. asy-Syu’ara, 42:30)
Jika umat Islam mau sungguh-sungguh berkomitmen menerapkan semua hal yang disyari’atkan Allah Ta’ala serta bersungguh-sungguh mengamalkannya secara kaaffah, maka kemenangan dan kejayaan Islam insyaa Allah akan segera terwujud nyata. Allah Ta’ala bahkan telah menjanjikan kemenangan bagi hamba-hamba-Nya yang memiliki ketundukkan kepada-Nya,
Artinya, “Wahai kaum mukmin, perangilah kaum kafir yang memerangi kalian. Allah akan menghancurkan kekuatan mental kaum kafir dengan tangan-tangan kalian, menghinakan mereka, memenangkan kalian atas mereka, dan menyenangkan hati kaum yang beriman.“ (QS. at-Taubah, 9:14)

Bentuk-bentuk Kemenangan

Diantara bentuk-bentuk kemenangan yang dimaksud adalah:
  1. Kemenangan dalam hujjah dan bayan.
  2. Menang melawan musuh-musuh Allah.
  3. Mati syahid.
  4. Memperoleh jannah.

- See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/prinsip-prinsip-meraih-kemenangan-dan-pertolongan-allah-dalam-penegakan-syariat.html#sthash.qgF5sr3H.dpuf

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...