Saat Harus Berbicara


Saat Harus Berbicara

Para ulama salaf, telah banyak menyimpan pelajaran yang berharga yang tak mungkin diterlantarkan begitu saja. Terlalu merugi untuk tidak membuka dan menelaah ulang lembaran kehidupan yang terhampar itu.
Tak ada tempat belajar tentang sosok-sosok mulia melebihi pelajaran mahal dari mereka. Pelajaran tentang jalan meretas kehidupan indah, dunia dan akhirat. Salah satu pelajaran dari mereka itu adalah saat-saat di mana kita akan menggunakan lisan kita.

Lisan, karunia Alah yang sangat berharga, bentuknya memang relatif kecil bila dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun ternyata memiliki peran yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita.

Celaka dan bahagia ternyata tak lepas dari bagaimana manusia memosisikan organ kecil tersebut. Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola baik, hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan. Menjadi nilai ibadah di sisi-Nya.

Allah  menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman, artinya:

“Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al Isra’: 53).

”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl: 125).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lagi-lagi, lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya tentu dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Apa yang dihasilkan  dari lisan manusia memiliki implikasi yang sangat luas terhadap dirinya dan orang lain. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melukiskan lisan dan hati sebagai kekayaan yang sangat berharga.

Tsauban Radhiyallahu 'Anhu menceritakan ketika ayat 34 surat at-Taubah (”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak”) turun, kami sedang dalam suatu perjalanan. Kemudian beberapa orang sahabat berkata, ”Ayat tersebut turun berkenaan dengan emas dan perak. Seandainya kami tahu harta yang paling baik, tentu kami akan menyimpannya.” 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kemudian bersabda,
”Harta yang paling baik adalah lisan yang selalu berzikir, hati yang selalu bersyukur, dan isteri yang beriman yang membantu suaminya dalam merealisasikan keimanannya.”

(HR. A t-Tirmidzi).
 

Nilai strategis lisan dalam kehidupan manusia tampak pada ungkapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika beliau menjawab pertanyaan Uqbah bin Amir Radhiyallahu 'Anhu. Dalam satu riwayat Uqbah Radhiyallahu 'Anhu berkata,

”Aku bertanya, ”Wahai, Rasulullah! Apakah jalan keselamatan? Beliau menjawab, ”Tahanlah lidahmu, berdiamlah di rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.” (HR. At-Tirmidzi).

Rentetan kata demi kata yang mengucur dari lisan seseorang, implikasi dan pengaruhnya bisa melebihi kapasitas dirinya dan zamannya. Akan menggema dan dapat memantul di semua benua. Banyak ungkapan yang lahir dari lisan seseorang memiliki nilai abadi. Bukankah nasihat dan dakwah para ulama salaf kita didominasi oleh peran lisan?

Tetapi sebaliknya, segalanya menjadi alamat petaka bila tak tertuntun. Lisan bisa berefek ganda dan luar biasa pengaruhnya terhadap kehidupan ini. Terkadang ia dapat meluncurkan sejumlah kebaikan dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari’at. Sebaliknya, lisan juga dapat meluncurkan sejumlah kejelekan yang membahayakan dirinya dan orang lain bagi siapa yang menggunakannya dengan tanpa pertimbangan.

Berapa banyak hati menjadi tercerai-berai karenanya? Berapa banyak darah tertumpah habis karenanya? Sebagaimana telah banyak hati dan perasaan terluka karenanya.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا ، يَزِلُّ بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memperhatikannya—tidak memikirkan akibatnya—ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara timur dan barat.
” (HR. Bukhari).

Bahaya lisan yang tidak dikendalikan oleh norma dan tuntunan syariat bisa menyeret seseorang ke jurang kebinasaan. Untuk itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menasihati agar menjaga lidah dengan baik. Beliau menganjurkan kita untuk diam ketika bukan perkataan baik yang akan terucap.
|
“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena ketajaman lidah memang sangatlah berbahaya, bahkan dosa bisa membiak dan beranak pinak dari lisan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya.” (HR. Al- Thabrani, Ibnu Abi Dunya, dan Al Baihaqi).

Atas dasar itu kita dapat memahami nilai keutamaan menjaga lidah yang diajarkan oleh para salaf, tentang sikap waqqof (berhati-hati dalam berucap).

Tersebutlah Umar bin Abdul Aziz—rahimahullah—pernah menulis surat yang isinya sebagai berikut, “Amma ba’d. Sesungguhnya orang yang banyak mengingat kematian, ia akan senang dengan bagian dunia yang sedikit; orang yang menganggap bicaranya itu termasuk amal perbuatannya, ia akan sedikit berbicara, kecuali dalam hal yang akan  membawa kebaikan buat dirinya.Wassalam.”

Begitu pula ketika seorang lelaki yang datang menemui Salman al-Farisi Radhiyallahu 'Anhu, lalu berkata kepadanya, “Berikanlah aku nasihat .” Beliau berkata, “Jangan bicara.” Sang penanya kemudian berujar, “Orang yang hidup di tengah manusia, mana bisa tidak berbicara?” Beliau menanggapi, “Kalaupun Anda hendak berbicara, berbicaralah yang benar, atau diam.” Lelaki itu berkata lagi, Tolong tambahkan yang lain.” Beliau berkata, “Jangan marah.” Lelaki itu berkomentar, “Kalau tidak bisa menahan diri, terkadang aku tidak sadar.” Beliau berkata menanggapi, “Kalau begitu, bila engkau marah, jaga lidah dan tanganmu.” “Tambahkan lagi”, lelaki itu meminta. Beliau berkata, “Jangan campuri urusan orang lain.” “Orang yang hidup bersama orang banyak, tak mungkn tidak mencampuri urusan orang lain,” sanggahnya. Beliau berkata, “Kalau engkau harus mencampuri urusan orang lain, katakan perkataan yang benar, dan tunaikan amanah kepada yang berhak.”

Suatu saat, Umar Radhiyallahu 'Anhu menemui Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu yang sedang menarik lidahnya. Maka, Umar  heran dengan tingkah ‘aneh’ sahabatnya ini. Lalu berkata Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu, “Sesungguhnya (lidah) ini telah membawaku pada sejelek-jelek perkataan.”

Duhai, jika saja Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu, manusia termulia di kalangan sahabat masih risau dengan lisannya, maka kitalah yang lebih pantas memiliki risau yang sangat itu.

Begitulah, mereka yang telah mendahului kita dalam kebaikan agama ini, amat tidak menyukai perkataan yang tidak berguna. Mereka menilai suatu ucapan sebagai ucapan yang tidak berguna apabila bukan Kitabullah (Al Quran), bukan mempelajari Kitabullah, bukan untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar, dan bukan untuk membicarakan hal yang menyangkut kebutuhan hidup.

Pembaca yang budiman, apakah Anda mengingkari bahwa Anda dijaga para malaikat yang mulia yang akan mencatat amal perbuatan, di kiri dan kanan Anda?

Setiap kata yang terlontar dari bibir Anda pasti akan dicatat oleh malaikat yang Raqib dan Atid. Apakah kita tidak malu apabila catatan amal kita yang diisi di penghujung waktu siang , yang sesungguhnya sebagian besar di antaranya ternyata bukanlah termasuk urusan agama maupun dunia yang bermanfaat bagi kita?”

Lidah yang tersibukkan dengan aib orang lain, bisa jadi aib tersebut juga ada pada kita. Pikirkan, apa yang akan dilakukan Rabb terhadap kita bila menggunjing sesama Muslim dengan suatu yang juga sebenarnya ada pada diri kita? Dan boleh jadi aib kita ternyata lebih besar.

Memang tak mudah, sebagaimana yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh—rahimahullah—bahwa sikap wara’ yang paling berat dilakukan adalah memelihara lidah. Namun, dengan taufiq Allah yang diikuti rasa takut terhadap balasan dan siksa-Nya, segalanya bisa terjadi.

Terakhir, tulisan ini tidaklah bermaksud memangkas semangat Anda untuk mendakwahkan untaian-untaian kata dari lisan Anda. Sama sekali tidak. Lisan itu sendiri tidaklah bersalah. Yang salah adalah ketika digunakan bermaksiat ataukah dalam aktivitas dakwah Anda ia hanya terhenti pada jejak-jejak kata yang tidak Anda terjemahkan dalam bentuk konkrit, dalam bentuk amal. Dan seperti itulah sejatinya.
 

Wallahul Waliyyu At Taufiq.
Abu Zubair Marzuki Umar (Al Fikrah No.21/Tahun X/Radjab 1430 H) id.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...